Beberapa tahun ke belakang, kita semua dihadapkan pada masa sulit akibat pandemi Covid-19. Hampir semua sektor usaha mengalami dampak yang signifikan termasuk sektor pariwisata yang menjadi salah satu yang paling terpukul.
Namun, bagi seorang pengusaha kreatif, kondisi tersebut bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk berinovasi dan bertahan di tengah keterbatasan. Dari situ lahir ide yang mampu menghidupkan kembali semangat berwisata, meski tanpa harus bepergian secara langsung.
Salah satu inovasi tersebut adalah Tur Virtual (Virtual Tour). Melalui platform Atourin, wisatawan dapat menikmati pengalaman tur virtual interaktif sebagai alternatif atau pelengkap bagi mereka yang belum dapat berkunjung secara fisik ke destinasi wisata.
Reza Permadi adalah salah satu tokoh muda yang berperan penting dalam pengembangan pariwisata digital di Indonesia. Lahir di Jakarta pada 29 April 1993, Reza merupakan lulusan Master of Sustainable Tourism (Pariwisata Berkelanjutan). Ia dikenal sebagai seorang pengusaha dan pendiri startup, sekaligus pendamping komunitas wisata serta pengajar di bidang pariwisata.
Sebagai wujud kontribusinya terhadap dunia pariwisata, Reza mendirikan PT Atourin Teknologi Nusantara lebih dikenal dengan nama Atourin pada 10 Desember 2019. Perusahaan ini berfokus pada solusi digital untuk pariwisata, khususnya dalam pengembangan desa wisata di seluruh Indonesia.
Beberapa manfaat yang bisa didapat bagi desa wisata, yaitu:
Adanya peningkatan efisiensi operasional, karena dengan digitalisasi, pengelola tidak lagi harus mencatat manual, mengelola karcis kertas, banyak antrean, dan seterusnya.
Transparansi keuangan dan data, membuat keuangan lebih jelas tercatat, data pengunjung tersimpan, sehingga bisa menganalisa tren kunjungan, demografi wisatawan, dan mengambil keputusan pemasaran yang lebih tepat.
Pemasaran & akses yang lebih luas, melalui platform Atourin atau integrasi dengan AVMS, desa wisata bisa lebih dikenal, produknya bisa dijual secara online (paket wisata, pengalaman lokal) yang menjangkau wisatawan dari luar area.
Pengelolaan kapasitas & keberlanjutan, untuk pemberian kuota pengunjung bisa diatur, sehingga dampak ke lingkungan atau masyarakat setempat dapat lebih terkendali bagian dari pariwisata berkelanjutan.
Pengalaman wisatawan lebih fleksibel & modern, wisatawan bisa reservasi sebelum datang, tidak harus antre, pembayarannya mudah, informasi lebih lengkap ini bisa meningkatkan kepuasan.
Tantangan yang Dihadapi
Tak ada bisnis yang tak punya rintangan, tantangan yang dihadapinya adalah Infrastruktur, Banyak desa wisata yang berada di daerah terpencil atau kurang terjangkau secara digital/internet, sehingga implementasi teknologi tidak selalu mulus.
Literasi SDM, Pengelola desa wisata sering belum familiar dengan teknologi, manajemen digital, atau sistem data yang lebih formal.
Perubahan mindset, dari metode manual atau tradisional ke pengelolaan yang lebih “digital dan profesional”. Ini membutuhkan waktu dan pendampingan. Meski sudah ratusan desa, target skala lebih besar (ribuan) masih menunggu. Dalam mencapai misi ke depan, Reza menargetkan agar hingga tahun 2030, sekitar 4.500 desa wisata di Indonesia sudah menggunakan sistem seperti AVMS atau terhubung melalui Atourin.
Menjadikan pariwisata desa bukan hanya sebagai objek “kuntum kecil” tapi bagian dari ekosistem pariwisata nasional yang profesional, digital, dan berkelanjutan. Memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta untuk mempercepat transformasi digital pariwisata.
Setiap tantangan bisa menjadi peluang, jika dihadapi dengan kreativitas dan semangat untuk terus belajar. Melalui inovasi dan teknologi, generasi muda memiliki peran besar dalam membawa pariwisata Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan inklusif.

